Senin, 09 Maret 2020

Pengelolaan Sekolah berbasis SOP


Dunia pendidikan di Indonesia dikagetkan dengan beberapa kasus yang alami para guru yang mendekam di sel tahanan, masuk penjara karena mencubit siswa. Ada yang di penjara gara-gara memotong rambut siswa,menampar siswa bahkan ada juga karena menyuruh siswa salat zuhur, dan yang terkini Ada orang tua siswa yang di penjara gara-gara menganiaya seorang guru

Melihat fenomena ini, langkah seperti apa yang lebih tepat di lakukan?
Kasus-kasus yang menimpa guru, maupun orang tua, menjadi ramai diperbincangkan, ada yang pro dan kontra, sebagian pihak memandang menghukum siswa di perlukan dalam proses mendidik, sebagian lagi menganggap hal ini melanggar (Hak Azazi Manusia) HAM. Sebagian pihak ada yang mendukung sikap orang tua yang telah menganiaya guru anaknya.

Atas berkat Rahmat Allah yang Mahakuasa, serta di dorong oleh keinginan luhur, tulisan ini selesai ditulis berangkat dari keprihatinan terhadap beberapa persoalan tersebut.

Pertama
Salah satu strategi dalam penatalaksanaan pendidikan di sekolah adalah merumuskan SOP dalam semua kegiatan yang ada, dirumuskan dengan sangat detail dan jelas Petunjuk Teknis (Juknis) beserta Petunjuk Pelaksanaan (Juklak) nya, lengkap dengan alokasi waktunya, memuat tata baku semua bentuk urusan yang ada dan terjadi di sekolah.

Jika di Sekolah Dasar, SOP nya hendaknya memuat tentang kegiatan selama 6 tahun, untuk tingkat SMP dan SMA masing-masing 3 tahun.

Sehingga semua pihak sudah mengetahui APA, SIAPA, DI MANA, KAPAN, KENAPA dan BAGAIMANA (ADIK SIMBA) di sekolah tersebut. Sehingga berdampak positif, seperti jika sekolah sudah memiliki Website contohnya, Warga Negara Asing (WNA) yang ingin bekerja ke Indonesia dan menyekolahkan anaknya di sekolah tersebut, bisa mengenal segala sesuatu tentang penyelenggaraan sekolah itu.

Dalam penyusunan SOP, dibuat dengan melibatkan para ahli sehingga sempurna hasil nya, misalkan SOP menghadapi siswa yang cidera di sekolah, dalam perumusan Juknis dan Juklak nya melibatkan narasumber dari Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas),

contoh kedua dalam penyusunan SOP menghadapi bencana alam seperti kebakaran, Juknis dan Juklak nya mesti mendatangkan dari pihak pemadam kebakaran (Damkar), agar grand desain penyelamatan nya benar-benar sesuai dengan lingkungan dimana sekolah kita berada.

Dan masih banyak lagi berbagai macam SOP pada berbagai macam kegiatan perlu diterbitkan sekolah dengan melibatkan para ahli, agar semua terstandarisi, konten nya tidak berpotensi pelanggaran terhadap peraturan perundangan-undangan yang berlaku

Kedua
Tindak lanjut setelah semua Dokumentasi SOP tersusun, maka tahapan berikutnya adalah mensosialisasikan semua SOP tersebut kepada semua warga sekolah, seperi unsur guru, unsur siswa, unsur orang tua siswa dan dari semua pihak terkait lainnya.

Kegiatan seremonial dalam Sosialisasi dipandang perlu agar ada efek psikis yang bermanfaat terhadap pentingnya pesan yang akan disampaikan. Sosialisasi menggunakan dua bentuk, lisan dan tulisan. Urusan sosialisasi ini menjadi penting karena penting nya materi yang di sampaikan.

Tahapan sosialisasi harus di pastikan terlaksana oleh pihak sekolah, agar semua unsur-unsur diatas mengetahui SOP yang akan menjadi pedoman dan panduan bersama tersebut. Serta Agar setiap urusan terlayani dengan prima nantinya, contoh nya kegiatan pengumpulan data orang tua siswa oleh sekolah berupa nomor handphone yang bisa dihubungi, maka orang tua siswa harus mengumpulkan data yang di minta, agar ketika diperlukan urusan komunikasi ini segera terlaksana

Ketiga
Komitmen semua pihak dalam menjalankan SOP yang telah diketahui dan di sepakati.
Contoh, ada SOP bagi orang tua untuk bertanya hanya kepada pihak sekolah jika menerima laporan bahwa anaknya terlibat konflik dengan siswa lain. Maka orang tua jika mengalami keadaan tersebut, hanya dibolehkan untuk bertanya kepada pihak sekolah sesuai dengan tata cara dan waktu yang telah di jelaskan dalam SOP, orang tua terlarang menanyai langsung kepada rival anak nya atau pihak lainnya, sesuai yang sudah di sepakati dalam SOP.

Keseriusan, kemauan yang kuat serta kesungguhan semua untuk mengikuti SOP, merupakan indikator
semangat kerjasama dalam memajukan pendidikan.

Terakhir, salah satu contoh SOP:
1. Siswa yang lupa aturan di sekolah, akan ditegur oleh guru tiga kali,
2 . Siswa yang mendapat teguran tiga kali harus membuat surat perjanjian setelah selesai jam belajar mengajar yang di tanda tangani oleh orang tua, agar bisa mengikuti pelajaran besok hari nya

Contoh prosedur diatas, telah tertuang didalam SOP, sudah diketahui dan di sepakati semua pihak, sehingga jika terjadi kasus serupa, maka tinggal mengikuti prosedur yang telah ada tersebut. Agar kekerasan terhadap fisik anak tidak terjadi, orang tua akan memaklumi bahwa anaknya melakukan pelanggaran

Contoh SOP bagi yang melanggar aturan terkait sampah, siswa yang membuang sampah tidak ditempat sampah, baru diperbolehkan masuk kelas lagi setelah melakukan tugas mandiri memungut sampah 20 buah serta mengisi buku kasus

Dengan adanya kejelasan sanksi atas setiap pelanggaran yang diketahui oleh semua pihak, maka bisa dipastikan konflik dan kesalahapahaman antara orang tua dan guru tidak akan terjadi, potensi terjadinya kasus pidana dalam dunia pendidikan bisa di minimalisir. Bahkan sebaliknya, siswa yang mengikuti proses sanksi karena melakukan pelanggaran, akan ter edukasi bahkan jera untuk melanggar, bahkan orang tua yang mengetahui anak nya berkasus di sekolah, akan memperbaiki pola pengasuhan terhadap anaknya di rumah

Begitu juga halnya dengan penghargaan bagi siswa, contohnya penghargaan dengan memberikan piagam atau piala karena aktif Dokter Kecil Sekolah, sebagai Polisi Cilik, Ketua Kelas, Tokoh Kebersihan Sekolah, dan jenis jenis penghargaan laginya.

Dengan optimal nya melakukan pemetaan terhadap kekuatan (strengths), kelemahan (weaknesses), peluang (opportunities), dan ancaman (threats) yang ada di sekolah, di tindak lanjuti dengan merumuskan SOP nya dengan sangat terperinci, maksimal dalam sosialisasi SOP, serta memastikan semua yang direncanakan benar-benar terlaksana adalah sebuah hasil yang akan berdampak positif tentu nya

Semoga dengan berhasil nya melakukan perencanaan, sama halnya dengan merencanakan keberhasilan, dan sebaliknya, gagal merencanakan, sama dengan merencanakan kegagalan itu sendiri

Isa Alamsyah penulis buku No Excuse mengatakan dalam seminar pendidikan di gedung Pancasila beberapa tahun lalu, Orang yang gagal akan selalu mencari-cari alasan untuk berhenti, sebaliknya orang yang sukses akan berhenti mencari-cari alasan.

(Ari Yunanda, S.Pd)

Minggu, 08 Maret 2020

Ketika Anakku Sakit



Anak bak permata. Tak ternilai harganya. Hal ini bahkan dirasakan oleh seseorang yang paling mulia, Rasulullah ﷺ. Demikian pula orang yang paling mulia setelah beliau, Abu Bakr Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu. Anak beliau ‘Aisyah radhiyallahu ‘anhu menceritakan:

“Suatu hari, Abu Bakr Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu mengatakan, ‘Demi Allah, tak ada seorang pun di atas bumi ini yang lebih kucintai daripada ‘Umar (Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anha-red.)!’ Ketika Abu Bakr radhiyallahu ‘anhu , dia pun bertanya, ‘Bagaimana sumpahku tadi, wahai putriku?’ Aku pun mengatakan kembali apa yang diucapkannya. Kemudian Abu Bakr radhiyallahu ‘anhu berkata, ‘Dia memang sangat berarti bagiku, namun anak lebih melekat di dalam hati’.” (HR. Al-Bukhari dalam Al-Adabul Mufrad, dikatakan oleh Al-Imam Al-Albani t dalam Shahih Al-Adabil Mufrad no. 61: hasanul isnad)

Tak heran, ketika anak sakit, derita yang berat pun turut dirasa oleh orangtua.
Tidak tega rasanya melihat anak terbaring pucat, ditambah lagi demam yang tak kunjung reda, Ingin rasanya menggantikan sakit dan deritanya. Namun nyatanya kita tak mampu berbuat apa-apa.

kita benar-benar merasakan lemah, tak kuasa memberikan kesembuhan. Terasa membutuhkan pertolongan.

Namun tak pantas kita berkeluh kesah atas musibah ini, dan hal itu harus kita jauhi, sebagaimana petunjuk nabi. Dikisahkan oleh Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu :

Aku menghadiri shalat pada hari raya bersama Rasulullah ﷺ, maka beliau memulai dengan shalat sebelum khutbah tanpa adzan maupun iqamat. Kemudian beliau berdiri sambil bertelekan pada Bilal, memerintahkan manusia agar bertakwa kepada Allah, menghasung mereka untuk menaati-Nya, memberi wejangan serta mengingatkan mereka.

Kemudian beliau pun berlalu, hingga mendatangi para wanita, lalu memberi wejangan kepada mereka serta mengingatkan mereka. Beliau bersabda, “Bersedekahlah kalian, karena kebanyakan kalian adalah bahan bakar Jahannam!”

Maka berdirilah salah seorang wanita dari kalangan orang yang terbaik mereka yang di pipinya ada kehitaman, lalu bertanya, “Mengapa, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Karena kalian banyak berkeluh kesah dan kufur kepada suami.” Maka mulailah mereka bersedekah dengan perhiasan mereka, mereka melemparkan anting-anting dan cincin-cincin mereka ke baju Bilal.” (HR. Muslim no. 885)

Dengan demikian, ketika himpitan melanda ,ingatlah kata syariat yang sempurna. Agar senantiasa kita terbimbing, terarah dengan nasihat yang begitu sempurna, hingga kita tak putus harapan.

Dalam Al-Qur’an, Allah Subhanahu wa Ta’ala
telah mengingatkan hamba-hamba-Nya:
“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepada kalian dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, kekurangan jiwa, dan buah-buahan. Dan berikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar, yaitu orang-orang yang apabila ditimpa musibah mengatakan, ‘Kami ini milik Allah dan kepada-Nya pula kami akan kembali’. Mereka itulah yang mendapatkan kebaikan yang sempurna dan rahmah dari Rabb mereka, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (Al-Baqarah: 155-157)

Kekurangan jiwa yang dimaksud dalam ayat ini adalah kematian orang-orang yang dicintai, baik anak-anak, karib kerabat maupun sahabat. Juga berbagai penyakit yang menimpa diri seorang hamba ataupun menimpa orang yang dicintainya. (Taisirul Karimir Rahman, hal. 76)

Cobaan yang disebutkan dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’ala ini pasti akan terjadi menimpa hamba-hamba nya, sebagaimana yang telah di kabarkan. Dan manusia pun terbagi menjadi dua golongan takkala musibah itu tiba, yang sabar dan yang tidak sabar.

Orang yang tidak sabar akan mendapatkan dua hal; musibah itu sendiri dan hilangnya pahala menempuh kesabaran yang diperintahkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Sementara orang yang Allah Subhanahu wa Ta’ala berikan taufik untuk bersabar saat terjadinya musibah, akan menahan diri baik dalam ucapan maupun perbuatan, sembari mengharap balasan pahala musibah yang jauh lebih agung daripada musibah yang menimpanya.

Bahkan sebenarnya musibah itu merupakan suatu nikmat, karena bisa menjadi jalan perintah untuk bersabar dan meraih pahalanya.

Inilah janji Allah Subhanahu wa Ta’ala, yang termaktub pula dalam ayat yang lain.

“Sesungguhnya orang-orang yang sabar akan dicukupi pahala mereka tanpa batas.” (Az-Zumar: 10)

Sabar. Hal yang memang seharusnya dilakukan kala ditimpa musibah. Demikian yang dikatakan oleh Rasulullah ﷺ , seperti yang dinukilkan oleh Suhaib bin Sinan Radhiyallahu Anhu:

“Sungguh mengagumkan perkara seorang mukmin, sesungguhnya setiap perkaranya merupakan kebaikan baginya, dan ini tidak dimiliki siapapun kecuali oleh seorang mukmin: apabila memperoleh kelapangan, dia bersyukur, maka ini kebaikan baginya, dan apabila ditimpa kesusahan, dia bersabar, maka ini pun kebaikan baginya.” (HR. Muslim no. 2999)

jika Allah Subhana Wa Ta'ala menghendaki kebaikan bagi seorang hamba, Dia akan menimpakan musibah kepadanya untuk mengujinya sehingga mengangkat derajatnya. Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ :

“Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan baginya, maka Allah akan menimpakan musibah kepadanya.” (HR. Al-Bukhari no. 5645)

Dengan mengetahui keutamaan ini, hendaknya semakin mengokohkan hati kita dalam menghadapi cobaan.
Cobaan membuahkan pahala, Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu pernah menyampaikan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

“Sesungguhnya besarnya pahala itu bersama dengan besarnya cobaan. Dan jika Allah mencintai suatu kaum, Allah akan menguji mereka. Barangsiapa yang ridha, maka dia akan mendapat ridha dari Allah, dan barangsiapa yang marah, maka dia akan mendapat kemurkaan dari Allah.” (HR. At-Tirmidzi no. 2396, dihasankan oleh Al-Imam Al-Albani t dalam Shahih Sunan At-Tirmidzi)

keutamaan bersabar atas cobaan, dapat menggugurkan dosa dan kesalahan kita. Abu Sa’id Al-Khudri dan Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

“Tidaklah seorang muslim ditimpa suatu kepayahan, penyakit, kegalauan, kesedihan, gangguan ataupun kegundahan, hingga duri yang mengenainya, kecuali Allah akan menggugurkan kesalahan-kesalahannya dengan musibah itu.” (HR. Al-Bukhari no. 5641, 5642 dan Muslim no. 2573)

Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu juga mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

“Senantiasa cobaan itu menimpa seorang mukmin atau mukminah pada dirinya, anak ataupun hartanya, sampai dia bertemu dengan Allah ta’ala dalam keadaan tidak memiliki kesalahan.” (HR. At-Tirmidzi no. 2399, dikatakan oleh Al-Imam Al-Albani t dalam Shahih Sunan At-Tirmidzi: hasan shahih)

Di tengah-tengah kerisauan dalam merawat buah hati yang sedang sakit, kita berharap, semoga Allah Subhana Wa Ta'ala, berikan taufik, membimbing serta memberikan pahala kesabaran kepada kita.

Semoga segala kesusahan yang kita alami menjadi jalan bagi kita untuk mendapatkan surga. Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu menukilkan sabda Rasulullah ﷺ:

“Neraka diliputi oleh berbagai kesenangan dunia, sementara surga diliputi oleh berbagai hal yang tidak menyenangkan di dunia.” (HR. Al-Bukhari no. 6487)

Terakhir, senantiasa lah memohon kesembuhan bagi anak kita. Hanya Allah Subhana Wa Ta'ala semata yang dapat memberikan kesembuhan atas penyakit buah hati kita.

“Dan apabila aku sakit, Dialah Yang menyembuhkanku.” (Asy-Syu’ara: 80)

Berdoa lah, disertai keyakinan bahwa Allah Subhana Wa Ta'ala akan mengabulkan doa kita. Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu menyampaikan bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda:

“Ada tiga doa yang pasti akan terkabul, tidak diragukan lagi: doa orangtua, doa orang yang bepergian, dan doa orang yang dizalimi.” (HR. Abu Dawud no. 1536, dikatakan oleh Asy-Syaikh Al-Albani t dalam Shahih Sunan Abi Dawud: hasan)

Akhirnya dengan Bimbingan Allah Subhana Wa Ta'ala dan Rasul Nya ini. Semoga kegundahan ini kelak berarti

Wallahu ta’ala a’lamu bish-shawab.

Selesai di susun di Rumah Sakit Bhayangkara Padang

13 Rajab 1441 H

Siswa akan di hukum, Orang tua diberitahu



Dunia pendidikan di Indonesia dikagetkan dengan beberapa kasus yang alami para guru yang mendekam di sel tahanan, masuk penjara karena mencubit siswa,ada yang gara-gara memotong rambut siswa,menampar siswa bahkan ada juga karena menyuruh siswa salat zuhur. Melihat fenomena ini,hukuman yang seperti apa yang lebih tepat di berikan kepada siswa ?,sehingga terbangun kesadaran mereka tentang perlunya menaati aturan dengan disiplin.Hukuman yang bagaimana yang mesti diberikan agar tidak menjadi bumerang bagi guru dan sekolah?, Masih tepatkah berbagai jenis hukuman yang ada saat ini di terapkan untuk mendisiplinkan siswa di sekolah ?

Kasus yang menimpa guru ini ramai diperbincangkan, ada yang pro dan kontra,sebagian pihak memandang menghukum siswa di perlukan dalam proses mendidik, sebagian lagi menganggap hal ini melanggar HAM. Lantas, apa hukuman yang tepat diberikan jika siswa yang melanggar yang ada di sekolah?

Hukuman itu sendiri merupakan salah satu alat mendidik, serta salah satu jenis metode pembelajaran, yang diberikan sesudah siswa melakukan kesalahan atau pelanggaran, atau digunakan sebagai suatu usaha pencegahan sebelum terjadi akibat yang membahayakan siswa itu sendiri, serta merupakan konsekuensi dari perilaku yang tidak tepat.

Di lain sisi, hukuman yang diberikan kepada siswa, juga bisa berdampak membiasakan anak untuk mencari pelampiasan terhadap temannya setelah di mendapatkan rasa yang sakit setelah mendapatkan hukuman, baik sakit yang di rasakan oleh fisik maupun psikis siswa. Bahkan pada situasi yang dipastikan tidak ada guru yang akan menghukum, besar kemungkinan siswa akan tetap melakukan perbuatan pelanggaran. Hukuman juga berdampak buruk terhadap guru yang menghukum, seperti rasa marah dan juga akan berdampak terhadap pihak-pihak lainnya. Hukuman juga akan menggantikan satu perilaku dengan perilaku lain yang juga tidak diinginkan.

Maka kajian yang mengupas tuntas tentang hukuman yang tepat,menjadi sebuah urusan yang mesti dipelajari dan harus mendapatkan perhatian besar dari pihak yang menerapkan hukuman, agar penguasaan terhadap hal ini membuat siswa akan mendapatkan layanan terbaik dan tuntas pada masa-masa perkembangan mereka. Literasi terhadap hasil rekomendasi peneliti yang sudah menempuh jalan panjang penelitian terkait hukuman yang tepat terhadap siswa, melalui studi daring adalah solusi tercepatnya.

Lantas apakah bolehkah guru memberikan hukuman fisik, seperti memukul, pada siswa yang melanggar aturan? Zaman dulu mungkin tidak menjadi persoalan, namun sekarang, guru harus berpikir panjang karena kalau dilakukan, bisa saja akibat buruk menimpa seperti guru yang diadukan ke polisi atau bisa juga guru akan di damprat orang tua siswa.

Sebuah sekolah di Kota Hephzibah, negara bagian Georgia, Amerika Serikat, mencoba menerapkan kebijakan soal pemberian hukuman fisik pada siswa yang ketahuan melanggar aturan. Sekolah di jenjang pendidikan dasar itu, yakni Georgia School for Innovation and the Classics (GSIC), mengirimkan formulir permintaan izin pada semua orangtua untuk memberikan hukuman berupa pemukukan oleh kayu bagi siswa yang melanggar aturan.

Dikutip dari cbsnews.com, beberapa waktu lalu, Kepala Sekolah GSIC, Jody Boulineau, mengatakan, ada sebanyak 100 orangtua yang mengirimkan kembali formulir itu dan sepertiganya menyetujui kebijakan itu. ”Di sekolah ini, kami menjalankan disiplin dengan sangat serius. Ada saat di mana hukuman fisik diperlukan,” ungkap Boulineau.

Ragam tanggapan diberikan orangtua, seperti, ”Aku sudah mendengar”, ”Hebat, sudah waktunya, kami sangat senang bahwa ini terjadi lagi, mereka seharusnya tidak pernah mengeluarkannya dari sekolah.” Tanggapan lain, ”Ya ampun, aku tidak percaya kamu melakukan itu.”

Ditegaskan Boulineau, orangtua dapat menolak kebijakan itu. Artinya tidak memberikan izin ke sekolah untuk memukul anaknya. Sebagai kompensasinya, siswa akan di diskors selama-lamanya lima hari.

Dijelaskan Boulineau, pada formulir itu dijelaskan langkah-langkah yang akan diambil sekolah dalam memberikan hukuman pemukulan itu. Siswa dibawa ke kantor dengan pintu tertutup. Siswa meletakkan tangan mereka di atas lutut atau meja dan akan dipukul di bokongnya dengan kayu sepanjang 24 inci, lebar enam inci dan tebal ¾ inci.

”Hukuman diberikan setelah pelanggaran ketiga yang dilakukan siswa. Pemukulan itu tidak boleh lebih dari tiga kali,” terang Boulineau.

Dalam formulir itu juga disebutkan, ketika hukuman akan diterapkan, orangtua diberi tahu.

Diketahui, dalam beberapa dasawarsa terakhir ini, hukuman fisik tak diperbolehkan di Amerika Serikat. Namun di negara bagian Georgia, hukuman fisik itu akan kembali diberlakukan dan GSIC mulai memberlakukannya pada sejak tahun 2019.

(Ari Yunanda, S. Pd)

Sabtu, 07 Maret 2020

Kesempatan emas bagi arsitektur peradaban manusia (Guru)


Sahabat guru, yang semoga ilmunya senantiasa bermanfaat seringkali ketika menjumpai anak didik bermasalahan, kita terasa enggan untuk disalahkan 100 % dengan argumen bahwa bagaimanapun orangtua (ayah dan ibu) juga mempunyai peranan dalam persoalan tersebut. beribu alasan sebagai argumen sering terkemuka :

- ayah ibunya terlalu sibuk
- ayah ibunya kurang perhatian terhadap anaknya
- ayah ibunya kurang kerjasama dengan sekolah - ayah ibunya terlalu pasrah apa kata sekolah - ayah ibunya begini... begitu... dan lain sebagainya

selalu begitu.... dan seakan sebagai guru kita merasa pantas untuk menolak tanggung jawab apapun yang terjadi pada anak didik kita karena mereka mempunyai orang tua..

kemudian bagi mereka yang tak punya orang tua ? lingkungan dan pergaulan... adalah jawaban yang sering terlontar.

baru-baru ini... sebuah SEKOLAH terpaksa harus mengeluarkan lebih dari 15 siswanya karena berbagai pelanggaran yang dilakukan oleh para siswanya, dan karena menganggap setelah dikoordinasikan dengan pihak orangtua ternyata tetap tidak ada perubahan maka mereka terpaksa dikeluarkan dari sekolah....

walau dampaknya kepala sekolah sendiri mengakui ada salah satu siswa yang dikeluarkan akhirnya jadi pengamen... anak jalanan. berhenti sampai disitukan...cukup dengan dikeluarkan dari sekolah... lepas sudah tanggung jawab kita sebagai guru ?
bukankah guru..itu

- menjadikan anak yang tidak baik menjadi baik
- menjadikan anak yang tidak berpengetahuan menjadi berpengetahuan
- menjadikan anak yang tidak berkarakter menjadi berkarakter
- menjadikan segala sikap negatif yang dimiliki siswa menjadi sikap positif jadi tak hanya sekedar datang kesekolah , masuk kelas lalu mengajar dan berikan tugas terus pulang ! dan tugas-tugas mulia yang akan berujung pada berlimpahnya pahala, janji tak akan terputusnya pahala karena ilmu yang bermanfaat ... sering harus terabaikan dengan alasan ( sekali lagi ) orang tua juga memegang peranan..!

apakah, mereka yang sudah tidak mendapat perhatian dari orang tuanya juga harus menerima resiko tidak juga mendapat perhatian dari gurunya ? apakah mereka yang sudah tidak diperdulikan lagi oleh orang tuanya juga harus menerima resiko tidak diperdulikan juga oleh gurunya ? apakah karena orang tua mereka tidak dapat bekerja sama dengan sekolah maka mereka juga yang menerima resikonya di tinggalkan oleh sekolah ? apa yang akan terjadi kepada mereka ? bisakah mereka akan menjadi lebih baik ? atau malah mereka akan menjadi lebih buruk ? haruskah mereka menerima resiko yang seharusnya bukan dikarenakan kesalahan mereka ? betul... orang tua harus bertanggung jawab terhadap anak-anaknya ! betul... orang tualah yang pertama harus disalahkan apabila terjadi apapun pada anak-anaknya tidakkah lebih mulia ketika sebagai guru, kita turut memberikan sebagian perhatian kepada mereka yang bermasalah sehingga akan muncul kebaikan pada mereka ? tidakkah lebih terpuji ketika sebagai guru, kita turut memberikan rasa keperdulian kepada mereka yang bermasalah sehingga akan muncul kebesaran hati pada mereka ? tidakkah lebih indah ketika sebagai guru, kita juga menjalin kerjasama dengan mereka yang bermasalahan sehingga akan termunculkan pemecahan masalah atas masalah mereka ?

terlalu sibukkah kita ? terlalu banyakkah tugas kita ? terlalu beratkah beban kita ? bila jawaban kita memang ya... berarti kita tidak lebih baik dari oang tua mereka bukankah kita sebagai guru adalah juga orang tua mereka.. yang akan sedih bila mereka bermasalah yang akan bangga bila mereka berhasil dan yakinlah.... janji Allah Subhana wa ta'ala. perihal pahala yang tak terputus bagi ilmu yang bermanfaat... tidaklah hanya untuk ilmu pengetahuan yang telah menjadi kewajiban kita untuk bekal mereka melainkan juga keteladanan dan keperdulian kita sebagai guru sehingga mereka bisa menjadikan ilmunya bermanfaat kepada kebaikan bagi sesama pun... tidakkah doa anak sholeh itu selain tertujukan kepada kedua orang tuanya... percayalah pasti juga akan ditujukan kepada kita , guru mereka yang telah memberikan hati dengan sepenuhnya. jadi... masihkan kita tetap serahkan tanggungjawab itu kepada hanya orang tua mereka ... dengan menyia-yiakan kesempatan yang sebenarnya sangat berharga (melebihi kesempatan emas menjadi guru profesional yang bersertifikat) untuk kita

Jumat, 21 Februari 2020

PERATURAN KEPALA PERPUSTAKAAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10 TAHUN 2017 TENTANG STANDAR NASIONAL PERPUSTAKAAN SEKOLAH DASAR/ MADRASAH IBTIDAIYAH

Cara Menampilkan File PDF di Blog atau Website

Cara Menampilkan File PDF di Blog atau Website – Perlu anda ketahui file atau dokumen PDF juga bisa di buka melalui blog atau website, cara ini sering digunakan untuk memberikan informsi yang jelas melalui file PDF. Seperti halnya situs penyedia PDF viewer seperti scribd dan academia.edu. Tetapi sekarang anda sudah bisa mengubah blog atau website menjadi PDF viewer.
Saya sudah banyak membuat tutorial tentang file PDF mulai dari cara membuat PDFcara convert pdf menjadi wordcara membuat file pdf tanpa software, dll. Setelah anda berhasil membuat PDF, kali ini saya akan memberikan tutorial singkat untuk menampilkan file PDF di postingan blog dengan mudah dan cepat.
Tutorial ini saya persembahkan untuk anda yang mengelola blog blogger atau wordpress, mana yang paling mudah penggunaannya? nanti anda bisa menilai sendiri mana pilihan blog terbaik untuk menampilkan file PDF.
PDF viewer ini sering digunakan oleh website instansi pemerintahan yang selalu menyajikan informasi data kepada masyarakat seperti portal pemerintahan kabupaten, kementerian atau yang paling sering adalah website KPU, karena selalu memberikan informasi tentang pemilu mulai dari nama calon tetap, peraturan, dan informasi penting lainnya.
Daftar Isi

Cara Menampilkan File PDF di Postingan Wordpress

Blog wordpress yang saya maksud disini adalah wordpress premium yang memiliki hosting sendiri dikenal dengan wordpress.org. Dengan menggunakan wordpress anda bisa dengan mudah instal plugin gratis maupun premium. Kali ini saya akan berbagi PDF viewer gratis yang bisa anda gunakan dan update kapan saja tanpa mengeluarkan biaya sedikitpun.
Plugin ini bisa dikatakan terbaik, karena anda cukup aktifkan plugin tanpa melakukan setting apapun dan cara pemasangannya di postingan juga cukup mudah.
Berikut langkah-langkahnya:
  1. Instal dulu pluginnya Embed PDF Viewer
  2. Silahkan masuk menu Plugins >> Add New, pencarian dengan mengetik WP Advanced PDF, lalu instal plugi tersebut dengan klik tombol Install Nowmenampilkan pdf di blog
  3. Setelah terinstal langsung aktifkan dengan klik tombol Activate.menampilkan pdf di wordpress
  4. Plugin sudah aktif tanpa melakukan setting apapun.
Cara Menampilkan PDF di Postingan
  1. Buat halaman postingan, kemudian letakkan kursor dimana file pdf nanti ditampilkan (sama prosesnya dengan menambah gambar)
  2. Upload file pdf dengan menekan tombol Add Media (seperti menambah gambar) >> lalu pilih file pdf dan tunggu proses upload file sampai selesai. Kalau sudah selesai upload file pdf tadi, silahkan klik tombol Insert into post.menampilkan pdf di wordpress
  3. Maka akan muncul URL file pdf / link file pdf tersebut.memasukkan pdf ke postingan blog
  4. Terakhir silahkan publikasikan postingan dan lihat hasilnya.
Hasilnya kurang lebih seperti gambar dibawah ini:menampilkan pdf di website
Update Terbaru Januari 2020
Jika dengan plugin Emben PDF Viewer tidak bisa, anda bisa menggunakan plugin Document Embedder yang sudah saya uji coba dan berhasil. Plugin ini bisa untuk menampilkan beberapa dokument sehingga plugin ini saja katakan plugin viewer dokumen terbaik untuk wordpress.
Berikut jenis file yang bisa ditampilkan:
Microsoft Word (.DOC and .DOCX)
Microsoft Excel (.XLS and .XLSX)
Microsoft PowerPoint (.PPT and .PPTX)
Adobe Portable Document Format (.PDF)
Apple Pages (.PAGES)
Adobe Illustrator (.AI)
Adobe Photoshop (.PSD)
Image files (.JPEG, .PNG, .GIF, .TIFF, .BMP)
Video files (WebM, .MPEG4, .3GPP, .MOV, .AVI, .MPEGPS, .WMV, .FLV)
Text files (.TXT)
Markup/Code (.CSS, .HTML, .PHP, .C, .CPP, .H, .HPP, .JS)
Tagged Image File Format (.TIFF)
Autodesk AutoCad (.DXF)
Scalable Vector Graphics (.SVG)
PostScript (.EPS, .PS)
TrueType (.TTF)
XML Paper Specification (.XPS)
Archive file types (.ZIP and .RAR)
Jika anda tertarik ikuti langkah berikut:
  1. Instal dulu pluginnya Document Embedder By Abu Hayat Polash
  2. Kemudian aktifkan
  3. Setelah aktif maka akan muncul menu di dashboard dengan nama Document Embedder
  4. Untuk membuat file baru silahkan pilih menu Document Embedder kemudian pilih Add New Docmenampilkan dokumen di postingan wp
  5. Silahkan isi judul file, masukkan file dari komputer atau laptop bisa juga link eksternal. Untuk ukuran bisa disesuaikan dengan lebar halaman postingan atau biarkan default. Jika pengaturan sudah selesai terakhir klik save.menampilkan pdf di wordpress
  6. Untuk menampilkan file pdf di halaman postingan wordpress, silahkan copy shortcode file yang sudah anda buat tadi kemudian copy dan paste pada halaman postingan.menampilkan file di postingan wordpress
  7. Selesai dan lihat hasilnya.

Cara Menampilkan File PDF di Postingan Blogger

Untuk dapat menampilkan PDF di postingan blogger, kita harus menggunakan bantuan layanan Google Drive kemudian kita masukkan embed ke dalam postingan.
Langkah-langkahnya sebagai berikut:
  1. Silahkan buka situsnya Google Drive kemudian upload file dengan menekan tombol + Baru >> lalu pilih Upload File.embed file pdf
  2. Tunggu sampai selesai upload, Setelah itu atur privasinya menjadi publik dengan cara klik kanan pada file yang sudah anda upload tadi lalu pilih bagikan.menampilkan pdf di blogger
  3. Kemudian Klik tombol pada “Dapatkan link yang bisa dibagikan” >> lalu klik tanda panah pada “Siapa saja dengan link dapat melihat” >> pilih Lainnya…cara menampilkan pdf di blog
  4. Lalu pilih Aktif – Publik di web >> Kemudian Simpanmenampilkan pdf di blog
  5. Kemudian klik kanan pada file dan pilih Pratinjaumenampilkan pdf pada postingan
  6. Lalu klik icon titik 3 dibagian atas sebelah kanan, silahkan pilih Buka di jendela barumenampilkan dokumen pdf di blog
  7. Pilih kembali icon 3 titik, lalu pilih Sematkan item…cara menampilkan pdf di blog
  8. Silahkan pasang kode yang didapatkan pada postingan blog.menampilkan pdf di blog
  9. Selanjutnya memasang pada postingan blogspot, silahkan buka postingan baru kemudian paste kode yang kamu dapatkan tadi pada mode HTML lalu publikasikan.cara menampilkan pdf di blogspot blogger
  10. Selesai dan lihat hasilnya.
Keterangan:
Jika lebarnya terlalu panjang kamu bisa mengaturnya lebih pendek pada bagian width, seperti contoh width=”600″ atau bisa sesuaikan dengan lebar halaman postingan.
Demikian penjelasan lengkap untuk menampilkan file pdf di blog blogger dan wordpress lengkap dengan gambar, namun jika anda masih kurang jelas bisa ditanyakan melalui kolom komentar.
Semoga dapat bermanfaat dan jangan lupa share tutorial ini agar diketahui banyak oarang. Terima kasih

KATA PENGANTAR


Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam kepada Nabi akhir zaman, kepada keluarga, para sahabat, dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik hingga akhir zaman. Tanpa bantuan dan masukan berbagai pihak penulisan makalah ini tidak akan bisa terwujud.  Untuk itu kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak atas segala bantuan dukungan dan sarannya.
Makalah ini merupakan tugas mata pelajaran Pendidikan Agama Islam yang berjudul Hubungan Antara Beriman Kepada Malaikat Allah Dengan Perilaku Teliti, Disiplin, Waspada dan Jujur, berisi penjelasan tentang beriman kepada Malaikat dan kaitannya dengan perilaku seorang muslim berdasarkan Al Qur’an dan Hadist serta penjelasan para ulama.
Mudah-mudahan makalah ini dapat bermanfaat dalam menambah pengetahuan bagi kelompok kami tentang Agama Islam serta bisa sebagai sebagai pemenuhan terhadap tugas kelompok Pendidikan Agama Islam yang di tugaskan kepada kami.



                                                                                        Tanah Badantung, 10 Februari 2020

Penulis,

Kamis, 20 Februari 2020

Rajin latihan fisik masih bisa kena serangan jantung? Ini kata dokter

Jakarta (ANTARA) - Meninggalnya selebritas Ashraf Sinclair pada Selasa (18/2) karena serangan jantung memunculkan tanya, mengapa mendiang yang dikenal rutin melakukan aktivitas fisik tetapi masih bisa terkena serangan jantung? CSS Tak hanya Ashraf, beberapa orang ternama antara lain Adjie Massaid dan kiper asal Spanyol Iker Casillas juga diketahui terkena serangan serupa (Iker berhasil selamat dari serangan jantung) padahal mereka rajin beraktivitas fisik. Berkaitan dengan hal ini, dokter spesialis kedokteran olahraga dari Rumah Sakit Premier Bintaro, Jakarta, Hario Tilarso mengatakan, latihan fisik sebenarnya jarang berakibat fatal pada kesehatan seseorang semisal serangan jantung kecuali orang itu punya kelainan jantung. "Latihan yang berat jarang bisa fatal, kecuali yang bersangkutan punya kelainan jantung. Yang bisa menentukan penyebab kematian adalah autopsi," kata dia saat dihubungi Serangan jantung, seperti dilansir dari Mayo Clinic terjadi ketika aliran darah ke jantung tersumbat. Penyumbatan paling sering karena penumpukan lemak, kolesterol dan zat-zat lain, yang membentuk plak di arteri (arteri koroner). Kurangnya melakukan aktivitas fisik dan gaya hidup tak sehat lainnya semisal merokok bisa menjadi faktor risiko seseorang mengalami serangan jantung. Namun, jika dua faktor risiko itu tak ada, masih ada faktor lainnya yakni riwayat keluarga (orang tua, kakek atau nenek) mengalami serangan jantung dan stres. Di sisi lain, ada faktor lain yang perlu dipertimbangkan, yakni DVT atau deep vein thrombosis. Kondisi ini terjadi akibat vena bagian dalam tungkai dan panggul mengalami pembekuan darah, menghambat atau mengganggu aliran darah di vena. DVT salah satunya bisa dialami pada orang yang duduk terlalu lama misalnya di pesawat saat menjalani perjalanan jauh. Ashraf diketahui beberapa waktu lalu bepergian ke Amerika Serikat bersama istrinya, Bunga Citra Lestari (BCL) untuk menghadiri pagelaran New York Fashion Week 2020. Dia dan BCL pulang ke Indonesia pada 15 Februari 2020. "Yang bersangkutan baru pulang dari Amerika (lebih dari 12 jam terbang). Duduk lama di pesawat dapat terjadi DVT, terbentuknya gumpalan darah yang bisa menyebabkan sumbatan pembuluh darah," tutur Hario. Laman Healthline menyebut, DVT mungkin tidak bergejala tetapi pada beberapa kasus, penderita bisa mengalami pembengkakan di kaki atau pergelangan kaki, kram dan ada bagian kulit yang berubah pucat, atau berubah menjadi warna kemerahan atau kebiruan. Untuk mencegah DVT, terutama saat melakukan perjalanan jauh, orang-orang perlu memenuhi asupan cairan mereka, menggunakan pakaian yang longgar dan bergerak setidaknya setiap 90 menit agar aliran darah tak terhambat. Tips aman saat latihan fisik Menurut Hario, sebelum melakukan melakukan aktivitas fisik, tidak ada salahnya jika Anda berkonsultasi dengan dokter agar bisa mendapatkan resep latihan yang sesuai kondisi Anda. Namun, sebenarnya ada jenis aktivitas yang sifatnya relatif aman untuk semua orang yakni berjalan kaki, karena sifatnya terus menerus dan cenderung tidak ada gerakan yang tiba-tiba. Durasi aktivitas fisik yang disarankan untuk orang berusia 18-64 tahun yakni selama 150 menit setiap minggu. Rinciannya, kegiatan itu dilakukan selama 30 menit dalam lima kali sepekan. Untuk anak berusia 5-17 tahun, latihan fisik dengan intensitas sedang dan tinggi dianjurkan selama 60 menit selama satu hari. Latihan fisik itu mengacu pada kegiatan aerobik, termasuk bermain yang meliputi gerak olah tubuh. Sementara, seseorang berusia di atas 64 tahun dapat melakukan olahraga dengan durasi seperti mereka yang berusia 18-64 tahun. Hanya saja, para lansia yang melakukan kegiatan olahraga harus menyesuaikan dengan kondisi tubuh mereka. "Berlatih sesuai kemampuan, latihan tetap dilakukan usia berapapun, sesuaikan beban latihan dengan usia dan kondisi," tutur Hario. Pewarta: Lia Wanadriani Santosa Editor; Ari Yunanda

Kamis, 17 Januari 2019

IKHLAS DAN KEUTAMAANNYA

Segala puji bagi Allâh Azza wa Jalla Rabb semesta alam. Shalawat dan salam semoga terlimpah kepada Rasul-Nya yang mulia, Nabi kita Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam , dan kepada keluarga serta para shahabatnya. Ini adalah sebuah risalah yang membahas keutamaan ikhlas, semangat untuk merealisasikannya, serta upaya menjaga diri dari hal-hal yang bertolak belakang dengannya. KEDUDUKAN IKHLAS DALAM AGAMA DAN KEUTAMAANNYA Keikhlasan termasuk salah satu pokok di antara pokok-pokok agama ini, bahkan ia merupakan poros dan sendi agama ini. Karena agama ini dibangun di atas dasar realisasi ibadah yang merupakan tujuan manusia diciptakan, sementara hakikat ibadah itu sendiri tidak akan ada kecuali disertai dengan ikhlas. Keikhlasan dalam ibadah itu, ibarat ruh dalam jasad. Jasad tanpa ruh menjadi bangkai yang tidak bernilai. Demikian pula amalan, jika dilakukan tanpa keikhlasan maka tidak ada nilainya, bahkan suatu amalan tidak dikatakan amal shalih tanpa keikhlasan. Banyak dalil, baik dari al-Qur’ân maupun sunnah yang mengajak untuk selalu ikhlas. Allâh Subhanahu wa Ta’ala berfirman : وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya beribadah kepada Allâh dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus [al-Bayyinah/98:5] Dan firman Allâh Azza wa Jalla : قُلْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ يُوحَىٰ إِلَيَّ أَنَّمَا إِلَٰهُكُمْ إِلَٰهٌ وَاحِدٌ ۖ فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا Katakanlah, “Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku, “Bahwa sesungguhnya Rabb kamu itu adalah Rabb Yang Esa”. Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Rabbnya maka hendaklah ia mengerjakan amal yang shaleh dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadat kepada Rabbnya.” [al-Kahfi/18:110] Pada ayat pertama di atas, Allâh Azza wa Jalla menjelaskan bahwa Dia k tidak memerintah hamba-Nya kecuali untuk mengikhlaskan ketaatan. Ini mencakup ikhlas dalam seluruh cabang keimanan yang disyariatkan Allâh Azza wa Jalla seperti dalam i’tiqâd (keyakinan), perkataan, dan perbuatan. Sedangkan pada ayat kedua Allâh Azza wa Jalla melarang perbuatan syirik yang merupakan lawan dari ikhlas. Allâh Subhanahu wa Ta’ala juga menjelaskan bahwa pahala Allâh diperuntukkan bagi mereka yang bertemu Allâh Azza wa Jalla pada hari kiamat dalam keadaan mengikhlaskan amalan mereka, bersih dari noda-noda syirik, serta mengikuti sunnah Nabi-Nya dalam amalan tersebut. Penetapan tentang ikhlas juga ada dalam dalam sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Dalam hadits yang terkenal dari Umar bin Khathab Radhiyallahu anhu yang diriwayatkan oleh Imam Bukhâri dan Muslim, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : إِنَّمَا اْلأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ, وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى, فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى دُنْيَا يُصِيْبُهَا, أَوْ إِلَى امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا, فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ Sesungguhnya setiap amalan disertai niat. Dan sesungguhnya setiap orang hanya akan mendapatkan apa yang ia niatkan. Barangsiapa hijrahnya untuk mendapatkan dunia atau untuk wanita yang ingin ia nikahi, maka hijrahnya kepada apa yang ia berhijrah kepadanya.[1] Al Khatthabi berkata, “Makna hadits ini, keabsahan amalan dan keberadaan konsekuensinya ditentukan oleh niatnya. Jadi, sesungguhnya niatlah yang mengarahkan amalan.”[2] Al-Hâfizh Ibnu Rajab rahimahullah berkata, “Makna al-a’mâlu bin niyât adalah amalan itu menjadi baik atau rusak, diterima atau ditolak, diberi pahala atau tidak, tergantung niatnya. Jadi, hadits ini menjelaskan tentang hukum syar’i yaitu baik buruknya suatu amalan terganutung baik dan buruknya niat.”[3] Oleh karena itulah, para Ulama salaf mengagungkan kedudukan hadits ini dan menyadari keagungan kandungannya. Dikisahkan, suatu ketika Yazîd bin Hârun menyebutkan hadits ini di hadapan Imam Ahmad rahimahullah, maka imam Ahmad berkata kepadanya, “Wahai Abu Khâlid leher ini (menjadi taruhannya).”[4] Ibnu ‘Abdil Bar berkata, “Ini memberikan konsekuensi bahwa setiap amalan tanpa disertai niat berarti tidak sah.”[5] PERHATIAN ULAMA SALAF TERHADAP KEIKHLASAN Dikarenakan keikhlasan mempunyai kedudukan yang sangat tinggi dalam agama, maka keikhlasan juga merupakan karakteristik manhaj salaf yang paling nampak. Di mana, keikhlasan merupakan fokus perhatian mereka, bahkan mewujudkan keikhlasan merupakan maksud dan tujuan tertinggi mereka. Oleh karena itu, sangat banyak perkataan dan ungkapan mereka yang menjelaskan tentang keikhlasan itu, baik yang berkait dengan hakikatnya, anjuran agar ikhlas, atau berupa peringatan dari lawan keikhlasan yaitu syirik dan riya’. Termasuk juga nukilan dari kisah mereka yang menakjubkan dalam merealisasikan keikhlasan. PERKATAAN PARA ULAMA SALAF DALAM MENJELASKAN HAKIKAT KEIKHLASAN Di antara perkataan mereka tentang hakikat keikhlasan adalah sebagai berikut : • Abu Idris rahimahullah berkata, “Seseorang tidak akan bisa mencapai hakikat ikhlas sampai ia tidak suka dipuji oleh seorang pun atas amalan yang dikerjakannya untuk Allâh Azza wa Jalla ”[6] • Al-Fudhail rahimahullah berkata, “Meninggalkan amalan karena manusia adalah riya’, dan mengerjakan suatu amalan karena manusia adalalah syirik. Ikhlas adalah jika Allâh Azza wa Jalla menyelamatkanmu dari keduanya.” • Imam as-Syâfi’i rahimahullah berkata, “Seandainya engkau mengerahkan seluruh kemampuanmu untuk menjadikan semua manusia ridha maka tidak ada jalan untuk mewujudkannya. Jika demikian, maka ikhlaskanlah amalan dan niatmu hanya untuk Allâh Azza wa Jalla semata.”[7] PERKATAAN ULAMA SALAF DALAM MENGANJURKAN KEIKHLASAN Di antara perkataan Ulama salaf dalam menganjurkan keikhlasan adalah yang diriwayatkan dari adh-Dhahak bin Qais bahwa ia berkata, “Wahai manusia ikhlaskanlah amalan kalian untuk Allâh Azza wa Jalla ! Sesungguhnya Allâh Azza wa Jalla tidak menerima amalan kecuali yang ikhlas. Apabila salah seorang dari kalian memberikan suatu pemberian, memaafkan suatu kezaliman, atau menyambung silaturahim, maka janganlah dia mengatakan dengan lisannya “Ini Karena Allâh” akan tetapi hendaklah ia memberitahukannya dengan hati.”[8] Bilal bin Sa’ad berkata, “Tidaklah mungkin engkau menjadi wali Allâh Azza wa Jalla secara lahir dan menjadi musuh Allâh Azza wa Jalla secara batin.”[9] Hatim berkata, “Carilah jati dirimu dalam empat perkara, yaitu beramal shalih tanpa riya’, mengambil (pemberian) tanpa ada keinginan, memberi tanpa mengharap imbalan, dan menahan (pemberian) tanpa ada rasa kikir.[10] Abu Abdirrahman as-Sulami berkata, “Saya pernah mendengar Manshûr bin Abdillah berkata, “Telah berkata Muhammad bin Ali at-Tirmidzi, “Kesuksesan di sana (akhirat) itu bukan karena banyaknya amalan. Sesungguhnya kesuksesan di sana itu dengan mengikhlaskan amalan dan memperbaikinya.” KESUNGGUHAN PARA ULAMA SALAF DALAM MEREALISASIKAN KEIKHLASAN Riwayat yang menjelaskan tentang (usaha) para Ulama salaf dalam merealisasikan keikhlasan serta kegigihan mereka dalam menjaga diri dari segala yang bertentangan dengannya, sangatlah banyak, baik dari kisah perjalanan hidup maupun petunjuk mereka. Di antaranya adalah keengganan mereka untuk menyatakan bahwa mereka orang-orang ikhlas yang sudah merealisasikannya. Misalnya, perkataan : • Hisyâm ad-Distiwai, “Demi Allâh, saya tidak bisa mengatakan, ‘Sesungguhnya saya sudah pergi sehari saja untuk mencari hadits karena mengharapkan wajah Allâh Azza wa Jalla ”[11] • Wakî’, “Tidaklah kita hidup kecuali di balik tirai. Seandainya tirai itu dibuka maka akan nampak perkara yang sangat besar, yaitu benar atau tidaknya niat seseorang.”[12] • Fudhail bin ‘Iyâdh, “Seandainya aku bersumpah bahwa aku telah berbuat riya’, itu lebih aku sukai daripada aku bersumpah bahwa aku tidak berbuat riya’.”[13] • Yusuf bin al-Husain, “Yang paling sulit di dunia ini adalah keikhlasan. Sering aku berusaha untuk menghilangkan riya’ dari hatiku, namun seolah-olah ia muncul dengan warna lain.” • Imam Ahmad pernah ditanya, “Apakah engkau mencari ilmu karena Allâh Azza wa Jalla ?” Beliau t menjawab, “(Menuntut ilmu) karena Allâh Azza wa Jalla itu berat (susah), namun (jika) ada sesuatu yang kami sukai, maka kami mempelajarinya.”[14] Dan diantara bentuk perhatian dan semangat para Ulama salaf dalam merealisasikan keikhlasan dan membendung semua yang bisa merusaknya adalah upaya mereka menyembunyikan amal shalih. Diantara riwayat itu : • Diriwayatkan dari Bakr bin Ma’iz , ia berkata, “ar-Rabi’ tidak pernah melihat seorang pun yang melaksanakan shalat sunnah di masjidnya kecuali sekali saja.” • Sufyân berkata, “Istri ar-Rabi’ bin Khaitsam telah mengabarkan kepadaku dengan mengatakan, “Seluruh amalan ar-Rabi’ itu rahasia.” • Dikisahkan bahwa ‘Ali bin al-Hushain pernah membawa sekantong roti di atas pundaknya pada malam hari, lalu ia bersedekah dengannya. Dan ia berkata, “Sesungguhnya sedekah secara rahasia akan memadamkan kemurkaan Rabb Subhanahu wa Ta’ala . • Al-A’masy berkata, “Suatu ketika Hudzaifah menangis dalam shalatnya. Saat selesai shalat, ia menoleh, ternyata ada orang di belakangnya. Maka ia berkata, “Janganlah sekali-kali engkau ceritakan ini kepada siapa pun.”[15] • Hammad bin Zaid berkata, “Suatu hari Ayyub menyebutkan sesuatu kemudian ia pun terharu. Lantas ia memalingkan wajahnya seakan-akan hendak buang ingus. Kemudian ia kembali menghadap kami dan berkata, “Sesungguhnya flu itu berat bagi Syaikh.”[16] • Muhammad bin Wâsi’ berkata, “Sesungguhnya dahulu pernah ada seorang laki-laki yang menangis selama dua puluh tahun, padahal dia bersama isterinya, namun si istri tidak mengetahui (tangisan itu).”[17] • Ibrahim at-Taimiy berkata, “Mereka (para salaf) membenci apabila seseorang mengabarkan amalannya yang tersembunyi.”[18] Dan termasuk bentuk perhatian generasi salaf terhadap keikhlasan adalah mereka membenci ketenaran, demi menutup celah yang bisa mengantarkan kepada riya’ dan memancing perhatian orang. Di antara riwayat tentang itu adalah : • Dari Habib bin Abi Tsâbit, “Suatu hari Ibnu Mas’ûd Radhiyallahu anhu pernah keluar lalu orang-orang mengikutinya. Ibnu Mas’ûd bertanya kepada mereka, “Apakah kalian ada perlu (denganku)?” Mereka menjawab, “Tidak ada, kami hanya ingin berjalan denganmu.” Ibnu Mas’ûd berkata, “Kembalilah kalian ! Karena sesungguhnya ini adalah kehinaan bagi yang mengikuti dan fitnah bagi orang yang diikiuti.”[19] • al-Hasan berkata, “Suatu hari aku bersama Ibnul Mubârak rahimahullah lalu kami mendatangi suatu sumber air sedangkan orang-orang sedang meminum air darinya. Lalu Ibnul Mubarak mendekat ke sumber itu untuk ikut minum, sementara orang-orang itu tidak mengenalnya. Mereka berdesak-desakan dengannya dan mendorongnya. Tatkala keluar, ia berkata kapadaku, “Inilah kehidupan, yaitu ketika kita tidak dikenal dan tidak disegani.”[20] • Abdullah bin Mubarak rahimahullah berkata, “Jadilah pecinta keterasingan karena benci ketenaran ! Namun jangan engkau tampakkan bahwa engkau suka keterasingan, karena itu akan menyebabkan dirimu terangkat. Sesungguhnya pengakuanmu memiliki sifat zuhud itu sebenarnaya telah keluar dari sifat zuhud. Karena engkau telah memancing pujian dan sanjungan orang kepadamu.”[21] ANJURAN MENGIKUTI ULAMA SALAF DALAM SEMANGAT KEIKHLASAN Berdasarkan penjelasan di atas, orang yang berakal dan cerdas, jika ingin menyusul orang-orang shalih tersebut, maka wajib mengikuti jejak mereka dalam keseriusan mereka merealisasikan keikhlasan serta upaya keras menghindari hal-hal yang bisa merusak atau mengurangi pahalanya. Di antara yang bisa membantu seorang Muslim untuk merealisasikannya adalah hendaknya ia menyadari betapa bahayanya kehilangan keikhlasan. Karena, amalan yang disertai keikhlasan adalah sebaik-baik ibadah kepada Allâh Subhanahu wa Ta’ala , namun jika ikhlas hilang, maka amalan itu menjadi perbuatan syirik yang bisa menyebabkan keluar dari Islam, kekal di neraka, jika itu termasuk syirik besar. Namun jika termasuk syirik kecil, maka itu menyebabkan amalan yang tercampuri itu menjadi terhapus. Jika para generasi salaf di masa-masa yang penuh keutamaan itu khawatir kehilangan keikhlasan, padahal dalam ilmu dan amal, kedudukan mereka tinggi; Mereka juga sudah berupaya menempuh segala cara untuk merealisasikkannya, maka apalagi kita, mestinya kita lebih khawatir lagi daripada mereka. Karena kita hidup di zaman yang penuh dengan fitnah, cendrung kepada dunia, serta kurang menyadari adanya pengawasan dari Allâh Azza wa Jalla , kecuali orang yang dirahmati Allah. DORONGAN BERBUAT IKHLAS DAN BESAR PAHALANYA DISISI ALLAH Di antara hal yang memotivasi untuk merealisasikan keikhlasan adalah balasan yang disediakan oleh Allâh Azza wa Jalla berupa pahala yang besar pada hari kiamat nanti. Allâh Azza wa Jalla berfirman. وَمَا تُجْزَوْنَ إِلَّا مَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ ﴿٣٩﴾ إِلَّا عِبَادَ اللَّهِ الْمُخْلَصِينَ ﴿٤٠﴾ أُولَٰئِكَ لَهُمْ رِزْقٌ مَعْلُومٌ ﴿٤١﴾ فَوَاكِهُ ۖ وَهُمْ مُكْرَمُونَ ﴿٤٢﴾ فِي جَنَّاتِ النَّعِيمِ ﴿٤٣﴾ عَلَىٰ سُرُرٍ مُتَقَابِلِينَ ﴿٤٤﴾ يُطَافُ عَلَيْهِمْ بِكَأْسٍ مِنْ مَعِينٍ “Dan kamu tidak diberi pembalasan melainkan terhadap kejahatan yang telah kamu kerjakan. Tetapi hamba-hamba Allâh Azza wa Jalla yang dibersihkan (dari dosa), mereka itu memperoleh rezki yang tertentu, yaitu buah buahan. Dan mereka adalah orang-orang yang dimuliakan. Di dalam surga-surga yang penuh ni’mat. Di atas tahta-tahta kebesaran berhadap-hadapan. Diedarkan kepada mereka gelas yang berisi khamar dari sungai yang mengalir.” [ash-Shaffât/37:39-45] Itulah pahala bagi orang yang berbuat ikhlas, yaitu orang-orang yang memurnikan amal-amal mereka hanya untuk Allâh Azza wa Jalla . Makna ini berdasarkan qirâ’ah (bacaan) yang mengkasrah huruf laam pada kata al-mukhlishin. Dan ini adalah qirâ’ah yang mutawatir. Diantara para Ulama yang membaca dengan cara ini adalah Imam Ibnu Katsîr, Abu ‘Umar, Ibnu ‘Amir dan Ya’qûb. Diantara buah keikhlasan dan keberkahannya adalah kesungguh-sungguhan pelakunya dalam melakukan ketaatan akan diberi pahala, meskipun amalnya kurang atau tidak mampu beramal. Oleh karena itulah Yahya bin Katsîr berkata, “Pelajarilah niat, karena sesungguhnya ia lebih mendasar daripada amalan itu sendiri.”[22] Sementara kehilangan keikhlasan akan menyebabkan pelakunya tetap berdosa, meskipun ia mengerjakan amalan yang paling utama. Oleh karena itu, Allâh Azza wa Jalla telah memberikan ancaman bagi orang-orang yang berbuat riya’ dalam shalatnya, dengan firman-Nya : فَوَيْلٌ لِلْمُصَلِّينَ (4) الَّذِينَ هُمْ عَنْ صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ (5) الَّذِينَ هُمْ يُرَاءُونَ (6) وَيَمْنَعُونَ الْمَاعُونَ “Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat. (Yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya. Orang-orang yang berbuat riya’. Dan enggan (menolong dengan) barang berguna.” [al-Mâ’ûn/107: 4-7] Renungkanlah ! Bagaimana Allâh Azza wa Jalla mengancam orang-orang yang riya’ dalam shalatnya, padahal shalat itu amalan yang sangat utama, dan mempunyaai kedudukan yang agung dalam agama. Diantara buah keikhlasan di dunia adalah Allâh Azza wa Jalla akan menjaga pelakunya dari perkara-perkara keji dan maksiat. Sebagaimana firman Allâh Azza wa Jalla tentang kisah Nabi Yûsuf. كَذَٰلِكَ لِنَصْرِفَ عَنْهُ السُّوءَ وَالْفَحْشَاءَ ۚ إِنَّهُ مِنْ عِبَادِنَا الْمُخْلَصِينَ “Demikianlah, agar Kami memalingkan daripadanya kemungkaran dan kekejian. Sesungguhnya Yusuf itu termasuk hamba-hamba Kami yang terpilih”. [Yûsuf/12:24]. Ini menurut qirâ’ah Ibnu Katsîr, Abu ‘Umar, Ibnu ‘Âmir, dan Ya’qûb, di mana mereka membaca dengan mengkasrah huruf lâm.[23] Berdasarkan qira’ah ini, penjagaan Allâh Azza wa Jalla kepada Nabi-Nya Yûsuf dari kekejian karena sebab keikhlasan amalannya kepada Allâh. PENCEGAH PERBUATAN RIYA’ Diantara pencegah terkuat dari perbuatan riya’ adalah sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits shahih yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu , ia berkata, “Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : إِنَّ أَوَّلَ النَّاسِ يُقْضَى يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَيْهِ، رَجُلٌ اسْتَشْهَدَ فَأُتِيَ بِهِ، فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَهَا، قَالَ: فَمَا عَمِلْتَ فِيْهَا؟ قَالَ: قَاتَلْتُ فِيْكَ حَتَى اسْتَشْهَدْتُ، قَالَ: كَذَبْتَ، لَكِنَّكَ قَاتَلْتَ لِأَنْ يُقَالَ: جَرِيْءٌ، فَقَدْ قِيْلَ، ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ حَتَّى أُلْقِيَ فِي النَّارِ. وَرَجُلٌ تَعَلَّمَ الْعِلْمَ وَعَلَّمَهُ، وَقَرَأَ الْقُرْآنَ، فَأُتِيَ بِهِ، فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَهَا، قَالَ: فَمَا فَعَلْتَ فِيْهَا؟ قَالَ: تَعَلَّمْتُ الْعِلْمَ وَعَلَّمْتُهُ وَقَرَأْتُ فِيْكَ الْقُرْآنَ، قَالَ: كَذَبْتَ، لَكِنَّكَ تَعَلَّمْتَ الْعِلْمَ لِيُقَالَ: عَالِمٌ وَقَرَأْتَ الْقُرْآنَ لِيُقَالَ: هُوَ قَارِئٌ، فَقَدْ قِيْلَ، ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ حَتَّى أُلْقِيَ فِي النَّارِ. وَرَجُلٌ وَسَّعَ اللهُ عَلَيْهِ وَأَعْطَاهُ مِنْ أَصْنَافِ الْمَالِ كُلِّهِ، فَأُتِيَ بِهِ، فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَهَا، قَالَ: فَمَا عَمِلْتَ فِيْهَا؟ قَالَ: مَا تَرَكْتُ مِنْ سَبِيْلٍ تُحِبُّ أَنْ يُنْفَقَ فِيْهَا إِلاَّ أَنْفَقْتُ فِيْهَا لَكَ، قَالَ: كَذَبْتَ، وَلَكِنَّكَ فَعَلْتَ لِيُقَالَ: هُوَ جَوَّادٌ، فَقَدْ قِيْلَ، ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ حَتَّى أُلْقِيَ فِي النَّارِ. Sesungguhnya manusia pertama yang akan dihisab pada hari kiamat adalah seorang lelaki yang mati syahid. Dia didatangkan (dihadapan Allâh Azza wa Jalla ), lalu Allâh Azza wa Jalla mengingatkan nikmat-nikmat-Nya, maka diapun mengakuinya. Allâh Azza wa Jalla berfirman, “Lalu apa yang kamu perbuat dengan nikmat-nikmat tersebut?” dia menjawab, “Aku berperang di jalan-Mu sampai aku mati syahid.” Allâh Azza wa Jalla berfirman, “Kamu bohong, akan tetapi kamu berperang agar kamu dikatakan pemberani, dan kamu telah dikatakan seperti itu (di dunia).” Kemudian diperintahkan agar dia diseret di atas wajahnya sampai dia dilemparkan masuk ke neraka. Dan (orang kedua adalah) seseorang yang mempelajari ilmu (agama), mengajarkannya, dan dia membaca (menghafal) al-Qur`ân. Dia didatangkan lalu Allâh Azza wa Jalla mengingatkan nikmat-nikmat-Nya maka diapun mengakuinya. Allâh Azza wa Jalla berfirman, “Lalu apa yang kamu perbuat padanya?” Dia menjawab, “Aku mempelajari ilmu (agama), mengajarkannya, dan aku membaca al-Qur`ân karena-Mu.” Allâh Azza wa Jalla berfirman, “Kamu bohong, akan tetapi kamu menuntut ilmu agar kamu dikatakan seorang alim dan kamu membaca al-Qur`ân agar dikatakan qâri` dan kamu telah dikatakan seperti itu (di dunia).” Kemudian diperintahkan agar dia diseret di atas wajahnya sampai dia dilemparkan ke neraka. Dan (yang ketiga adalah) seseorang yang diberikan keluasan (harta) oleh Allâh Azza wa Jalla dan Dia memberikan kepadanya semua jenis harta. Dia didatangkan lalu Allâh Azza wa Jalla mengingatkan nikmat-nikmatNya maka diapun mengakuinya. Allâh Azza wa Jalla berfirman, “Lalu apa yang kamu perbuat padanya?” Dia menjawab, “Aku tidak menyisakan satu jalanpun yang Engkau senang kalau ada yang berinfak di situ kecuali aku berinfak disana karena-Mu.” Allâh Azza wa Jalla berfirman, “Kamu bohong, akan tetapi kamu melakukan itu agar disebut dermawan, dan kamu telah dikatakan seperti itu (di dunia).” Kemudian diperintahkan agar dia diseret di atas wajahnya sampai dia dilemparkan ke neraka.”[24] Hendaklah orang yang berakal memperhatikan dan merenungkan, bagaimana orang-orang yang memiliki amalan-amalan yang besar itu, justru yang paling awal dimasukkan ke neraka ? Karena mereka tidak ikhlas dalam amalan mereka dan ingin dipuji manusia. Dan diantara yang perlu menjadi bahan renungan adalah apa yang disebutkan dalam hadits itu bahwa ketiga orang tersebut telah mendapatkan pujian manusia yang mereka inginkan. Ini perlu diperhatikan agar tidak tertipu dengan pujian manusia. Sesungguhnya yang menjadi tolok ukur adalah niat dalam hati yang diketahui Allâh Azza wa Jalla . Kita memohon, semoga Allâh Azza wa Jalla memberikan rahmat-Nya kepada kita dan memberikan petunjuk kepada hati-hati kita agar ikhlas karena Allah k dan mengharapkan keridhaan-Nya. Dan semoga Allâh Azza wa Jalla tidak menyerahkan urusan kita kepada diri kita sendiri meskipun sekejap mata, atau lebih singkat dari itu. Semoga shalawat, salam, dan barakah senantiasa tercurah kepada hamba dan rasul-Nya Muhammad dan kepada keluarga dan para shahabat seluruhnya[25]. [Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 08/Tahun XVI/1434H/2013. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-761016] _______ Footnote [1]. Shahîh al-Bukhâri 1/6. [2]. Ma’âlimus Sunan 3/244. [3]. Jâmi’ul ‘Ulûm wal Hikam, 1/65. [4]. Jâmi’ul ‘Ulûm wal Hikam, 1/64. [5]. al-Istidzkâr 1/264. [6]. Târîkh Dimasyq, 23/419. [7]. Syu’abul Îmân, 9/201. [8]. Târîkh Dimasyq, 24/282. [9]. Siyar A’lâmin Nubâlâ’, Cet. al-Hadîts, 9/407. [10]. Syu’abul Îmân, 9/182. [11]. Siyar A’lâmin Nubâlâ’, Cet. al-Hadîts, 1/46. [12]. Siyar A’lâmin Nubâlâ’, Cet. al-Hadîts, 7/568. [13]. Siyar A’lâmin Nubâlâ’, Cet. al-Hadîts, 7/401. [14]. Raudhatul Muhibbîn wa Nuzhatul Musytaqqîn, hlm. 69. [15]. ar-Riyâ’, hlm. 175. [16]. Dzammur Riyâ’, hlm. 181. [17]. Dzammur Riyâ’, hlm. 176. [18]. Dzammur Riyâ’, hlm. 244. [19]. Akhlâqus Salaf, hlm. 23. [20]. Shifatus Shafwah, 4/135. [21]. Shifatus Shafwah, 4/137. [22]. Jâmi’ul ‘Ulûm wal Hikam, 1/70. [23]. Lihat as-Sab’ah, hlm. 348, at-Tadzkirah 2/379, al-Miftâh 2/627, al-Mukhtâr 1/418, an-Nasyr 2/221, [24]. HR. Muslim 3/1513. [25]. Diangkat dari risalah berjudul Kalimatul Ikhlas wa Fadhluhu, karya Syaikh Ibrahim bin ‘Amir ar-Ruhaili dalam website beliau www.al-rehaili.net https://almanhaj.or.id/4258-ikhlas-dan-keutamaannya.html Read more https://almanhaj.or.id/4258-ikhlas-dan-keutamaannya.html